SEBAGAI HADIAH MALAIKAT MENANYAKAN, APAKAH KAMI INGIN BERJALAN DI ATAS MEGA. DAN KAMI MENOLAK, KARENA KAKI KAMI MASIH DI BUMI SAMPAI PENYAKIT TERAKHIR DISEMBUHKAN, SAMPAI KAUM DHU`AFA DAN MUSTAD`AFIN DIANGKAT TUHAN DARI PENDERITAANNYA
Minggu, 02 Mei 2010
Karena solidaritas dakwah Islam saat itu, Imam Hasan al-Banna beserta rekan-rekannya pada awal tahun 1928 di Mesir mendirikan suatu organisasi. Maka lahirlah sebuah organisasi yang diberi nama Ikhwanul Muslimin (IM) dimana kelak dengan secara keras akan menentang penjajah Inggris di negeri piramid tersebut. Sebab, gerakan IM selain sebagai gerakan dakwah Islam berdasarkan al-Qur'an dan Hadits, dengan semangat jihadnya IM juga menentang rezim penguasa maupun penjajah masa itu. Karena itu, tidak berlebihan jika disebut karena dakwah Islam dan semangat jihad ini, telah menjadikan inspirasi umat Islam di Negara lain untuk membentuk organisasi yang bahkan lebih radikal. Inilah yang terjadi di Indonesia, sebuah transformasi yang radikal dan menyentuh hampir di seluruh sendi kehidupan umat.


Dalam bukunya berjudul "Fenomena Partai Keadilan; Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia" Ali Said Damanik menyebut adanya transformasi gerakan tarbiyah tersebut. Menurut hemat penulis, gerakan tarbiyah ini direpresentasikan oleh dua bidang yang hingga saat ini masih diakui eksistensinya. Pertama dalam bidang pergerakan kemahasiswaan, dan kedua pada bidang percaturan politik nasional.

Dalam bidang pergerakan kemahasiswaan tersebutlah organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ali menganggap bahwa kemunculan KAMMI adalah sangat berkaitan erat dengan IM yang sempat tumbuh subur di Mesir. Sebab kelahiran KAMMI tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan para alumnus dari Timur Tengah yang dikirim oleh Indonesia melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). DDII yang didirikan oleh Natsir adalah lembaga yang ditunjuk menjadi pelaksana pengiriman para calon mahasiswa yang akan dikirim ke Timur Tengah. Salah satu tokoh alumnus tersebut adalah Abu Ridho yang kelak menjadi ideolog gerakan tarbiyah di Indonesia.

Akibat sentuhannya dengan gerakan IM di Timur Tengah baik secara langsung maupun tidak para alumnus ini yang menjadi Founding father dari gerakan tarbiyah di Indonesia. Gerakan tarbiyah ini awalnya tumbuh di perguruan-perguruan tinggi negeri umum seperti UI, IPB, UGM dan ITB setelah akhirnya menjadi besar selepas deklarasi kelahirannya. Kelahirannya dibidani oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 25- 29 Maret 1998. Inilah embrio dari berbagai gerakan tarbiyah yang akan muncul maupun kelak berkembang dalam bentuk lain di Indonesia.

Setelah tumbuh dan berkembang di ranah pergerakan kemahasiswaan, kader-kader gerakan tarbiyah tersebut menggeliat untuk turut berpartisipasi dalam kancah perpolitikan nasional. Dibentuklah Partai Keadilan (kini Partai Keadilan Sejahtera) sebagai wadah aspirasi politik yang pada PEMILU 1999 mendapat suara di DPR sebesar 6 kursi dengan 1.436.565 jiwa pemilih. Sementara pada PEMILU legislatif 2004 PKS memperoleh suara 8,3 juta dari keseluruhan pemilih melampaui suara Partai Amanat Nasional (PAN) yang hanya mendapat 7,3 juta jiwa pemilih.

Dua fenomena diatas sudah cukup untuk dapat dijadikan pegangan bahwa transformasi gerakan IM telah terjadi di Indonesia khususnya pada dua bidang di atas. Sebab disamping ideolog gerakan tarbiyah di Indonesia berasal dari alumnus Timur Tengah sempat mempelajari ideologi gerakan IM, ideologi yang berkembang pada gerakan ini menunjukkan kemiripan-kemiripannya. Kemiripan tersebut untuk menyebut beberapa diantaranya pada sistem pengkaderan –seperti Daurah, Liqa', Usroh-, Daulah Islamiyah, doktrin jihad sebagai jargon suci dan jargon-jargon suci lain yang serius diusung oleh mereka.
Meskipun demikian, sebatas pengamatan orang awam transformasi gerakan IM hanya terjadi pada dua bidang diatas. Padahal transformasi tersebut juga menyentuh dan bahkan dirasakan pada organisasi massa Islam Muhammadiyah. Sebab sejauh pengamatan penulis di Muhammadiyah telah terjadi gejala radikalisasi sebagai sebuah mainstream gerakan tersendiri.




RADIKALISASI MUHAMMADIYAH

Gerakan tarbiyah IM biasa diidentikkan dengan istilah Radikal (M. Amin Rais: 1987). Oleh sebab itu wajar jika ada satu kelompok yang memiliki ideologi serupa dengan gerakan IM tersebut dicandrakan dengan idiom Radikal. Sebab gerakan ini dikenal memiliki karakter gerakan yang ekstrim tanpa kompromi dalam menginginkan sebuah perubahan. Kondisi ini dapat dilihat dari aktifitas organisasi internal. Di Mesir misalnya, gerakan IM berani mempertaruhkan jiwa dengan semangat doktrin jihad menentang kolonialisme maupun upaya menegakkan Daulah Islamiyah. Berbeda dengan apa yang terjadi di Mesir, di Indonesia –meski dengan ruh yang sama yakni jihad- gerakan ini dikenal sangat radikal dalam mengeluarkan sikap baik melalui demonstrasi ataupun sikap poilitik yang ekstrim.
Lantas apa yang dimaksud dengan radikalisasi Muhammadiyah? Perlu dilakukan analisis-ideologis yang panjang dan teliti untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab hipotesa tersebut disamping berhubungan dengan ideologi gerakan tarbiyah sebagai yang disinggung dimuka, tidak bisa dijauhkan dari ideologi Muhammadiyah yang perlu analisis panjang. Namun demikian, dengan melakukan generalisasi secara formal-organisatoris nampaknya ideologi gerakan Muhammadiyah dapat diwakili dengan ”Islam Moderat". Radikal dan Moderat, dua ideologi besar yang berbeda –dengan tidak menyebut bertentangan- yang dimiliki oleh masing-masing gerakan tarbiyah dan Muhammadiyah.

Maka wajar saja, jika kemudian di dalam organisasi sebesar Muhammadiyah terjadi fenomena paradoks. Kader-kader Muhammadiyah justru dalam waktu yang bersamaan disadari maupun tidak berideologi Islam Radikal. Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa kader-kader Muhammadiyah ataupun ortom, dalam sekaligus include menjadi anggota pada gerakan tarbiyah di atas.

Sulit diterka sebab musabab kader-kader Muhammadiyah secara bersamaan juga menjadi kader gerakan tarbiyah. Sebut saja Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Busyro Muqoddas, selain sebagai kader Muhammadiyah namun juga populis di kalangan gerakan tarbiyah. Biarpun demikian, sedikitnya ada dua alas an untuk dapat menjawab sebab musabab di atas. Pertama tentang strata sosial-ekonomi, sedang kedua mengenai pola pemahaman terhadap Islam (al-Qur'an dan Hadits).

Basis massa Muhammadiyah jika dilakukan generalisasi adalah kelompok sosial ekonomi masyarakat menengah ke atas pada masyarakat perkotaan seperti pedagang, karyawan, guru, pegawai dan lain-lain. Dalam hal ini pantas kita memperhatikan pendapat Nur Khalik Ridwan yang mengidentikkan Muhammadiyah dengan parafrase kelompok "agama borjuis" (Nur Khalik Ridwan: 2004). Biarpun, pengelompokan ini tidak disertai dengan sikap obyektif bahwa meskipun basis massa Muhammadiyah adalah "borjuis", namun bukan berarti Muhammadiyah selalu menindas, elitis dan tidak berpihak kepada rakyat miskin. Artinya, basis massa seperti inilah yang juga ada pada gerakan tarbiyah di Indonesia.

Fenomena lain yang dapat memperkuat adalah tentang perolehan suara PKS pada PEMILU legislatif 2004. Perolehan suara partai ini mengalami penumpukan pada daerah tertentu saja seperti di Ibukota Jakarta. Kasus ini menunjukkan bahwa basis massa gerakan tarbiyah terbatas pada masyarakat perkotaan yang identik pada masyarakat menengah ke atas seperti dalam Muhammadiyah. Kemiripan basis massa inilah yang dapat dijadikan salah satu alasan kenapa kader-kader Muhammadiyah secara bersamaan juga menjadi kader gerakan tarbiyah.

Sementara dalam bidang pemahaman terhadap al-Qur'an dan Hadits sebagai sentral pemikiran dan aktifitas keduanya juga mengalami kemiripan. Dalam Muhammadiyah tidak sedikit warga yang memiliki pemahaman tekstualis-fundamental disamping pemahaman kontekstual-liberal terhadap teks-teks suci Islam. Sedangkan dalam gerakan tarbiyah terjadi kondisi yang mirip kendatipun didominasi oleh pola pemahaman yang pertama (tekstualis-fundamental). Dari sini, terlihat bahwa terdapat kesamaan pada pola pemahaman yang pertama dalam memahami teks-teks suci Islam. Dua sebab di atas mengandung arti kemungkinan besar gerakan tarbiyah memilih warga Muhammadiyah dalam doktrinasi dan ideologisasi disebabkan kemudahan karena kemiripan beberapa bidang di atas.




KRITIK DAN HARAPAN

Meski kaderisasi yang biasa dilakukan gerakan tarbiyah cukup massif dan sistematik, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kaderisasi yang dilakukan gerakan tarbiyah kurang inovatif. Maksudnya, kelompok ini kurang memiliki inisiatif untuk merekrut kader –jika meminjam bahasa Cliford Gertz- Islam abangan bahkan di luar Islam. Padahal upaya ini adalah missi pokok yang dilakukan Muhammadiyah. Dengan bahasa yang sederhana, Muhammadiyah dengan keras mencari, mengumpulkan dan mengikat umat pada tali "loyalitas Islam" melalui sistem kaderisasi, sementara gerakan tarbiyah mengambil "bahan jadi" yang telah diolah tanpa mengalami kesulitan seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Jika saja gerakan tarbiyah melakukan kadersisasi serupa yang dilakukan Muhammadiyah, sungguh akan menjadi kekuatan simpul Islam yang luar biasa dan tidak akan terjadi sikap saling mencurigai seperti yang telah terjadi.

Kedua, sifat kaderisasi Muhammadiyah –dalam bahasa Mukti Ali- "ilmiah-doktriner". Sementara gerakan tarbiyah "teologis-doktriner". Bila yang pertama menghasilkan pola gerakan yang desentralistik-rasional, maka yang kedua mengakibatkan pola gerakan yang sentralistik-dogmatis. Ketika Muhammadiyah tidak memahami ini, maka kader yang "dualisme" tersebut akan tercerabut dari ruh dasar yang desentralistik dan rasional meski memiliki pangkal yang sama, religiusitas,




SOLUSI DAN AGENDA MUHAMMADIYAH KE DEPAN

Sudah saatnya Muhammadiyah melakukan refleksi untuk agenda ke depan yang lebih baik. Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, Jawa Timur mungkin dapat dijadikan momentum yang sangat strategis untuk agenda tersebut. Islam moderat sebagai basis ideologi gerakan tajdid harus tetap dipegang dan dijadikan mainstream gerakan. Dengan begitu loyalitas akan tetap terjaga guna membangun Islam melalui Muhammadiyah yang lebih baik sesuai cita-citanya.


Sementara, ideologisasi harus tetap terus dibangun. Warga Muhammadiyah mesti sadar bahwa organisasi ini memiliki karakter pemikiran yang multikultural. Karakter ini justru harus tetap dipupuk yang menjadi ciri khas organisasi sekaligus penyangga utama gerakan tanzih (pemurnian) dan tajdid (pembaharuan) gerakan sebagai misi utama organisasi. Pemikiran tekstual-fundamental menjadi penyangga tanzih sedangkan pemikiran kontekstual-liberal menjadi penopang utama tajdid gerakan. Dua karakter sekaligus yang dimiliki Muhammadiyah dan harus tetap dipertahankan.
Sekali lagi gerakan tarbiyah hanya dominan pada pemikiran yang tekstual-fundamental. Akibatnya, kader Muhammadiyah yang "dualisme" sedikit demi sedikit akan dipaksa untuk berfikir demikian dan menyisihkan pemikiran lain yang dengan sendirinya mencerabutkan diri dari "ruh" tajdid gerakan. Sebab, jika kader Muhammadiyah dibiarkan "dualisme" dengan gerakan tarbiyah, maka doktrin pemikiran tersebut akan terus terbangun dan suatu saat akan a priori terhadap "ruh" tajdid gerakan. Akhirnya, Muhammadiyah sudah semestinya melakukan inovasi dengan mempertahankan multikulturalisme gerakan, mentradisikan pemikiran kontekstual-liberal, memupuk kesadaran tekstual-fundamental. Sikap pertama menghasilkan ketajaman visi tajdid gerakan, sedang yang kedua mengukuhkan upaya tanzih keagamaan. Huwallahu a'lamu!

MIFTACHUL HUDA

2 komentar:

immwan mengatakan...

dibtuhkan org2 berkomitmen yg mau menancapkan ideologi muhammdyah dikalangn sivitas akademia khususnya PTM scr trus mnerus berksinambungan

Anonim mengatakan...

Kemiripan Muhammadiyah dan IM adalah hal yang PASTI, karena Muhammadiyah dan IM berasal dari satu pokok pemikiran yang sama, yakni dari IBNU TAIMIYAH.

Posting Komentar

EVENT

MUSYAWARAH KERJA
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH FAKULTAS FARMASI PERIODE 2010/2011


Sabtu & Ahad
4 & 5 Maret 2011
13.00 - 18.00 & 09.00 - Selesai
Ruang 204 Kampus III UAD & Wisma Damar

UP-GRADING
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH FAKULTAS FARMASI PERIODE 2010/2011


Jum'at
4 Maret 2011
13.00 - 18.00
Ruang 303 Kampus III UAD

PELANTIKAN PIMPINAN KOMISARIT IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH FAKULTAS FARMASI PERIODE 2010/2011


Sabtu
5 Februari 2011
16.00
Ruang 203 UAD

FROM ADMIN

Bagi teman - teman yang ingin menyumbangkan tulisan ke dalam blog ini dapat mengirimkannya ke immfarmasiuad@ymail.com.
TERIMA KASIH

Blog Archive